U’U
Post ini terinspirasi oleh dua orang wanita luar biasa di rumah saya.
U’u begitulah kami memanggilnya. Sebuah kata sapaan bahasa Sunda yang berarti nenek buyut. Tak seorangpun yang mengetahui secara pasti berapa umurnya saat ini. Ada yang bilang umurnya 105 tahun, ada pula yang bilang 110 tahun. Wajar saja, dahulu pada zamannya, orang tidak terlalu menganggap penting masalah tanggal kelahiran. Akta kelahiran pun tidak ada. Yang pasti, beliau telah merasakan bagaimana perlakuan tentara-tentara Belanda ketika zaman colonial dulu, bagaimana bertahan hidup di bawah kekuasaan Jepang, bagaimana rasanya akhirnya dapat meneriakkan “MERDEKA” pada 17 Agustus 1945, peristiwa G30S PKI,orde lama orde baru dan peristiwa2 penting lainnya hingga akhirnya memasukki era millennium ke 2 ini. Ya, dulu beliau sering bercerita pada kami , cicitnya tentang semua itu.
Beliau adalah ibu bagi kakek saya dan 13 orang anak lainnya yang dia lahirkan. Tuhan mengkaruniainya anak dengan jumlah gender yang sama, 7 pria dan 7 wanita. Beliau mampu membesarkan anak2nya ditengah keadaan Indonesia yang tengah dilanda peperangan. Kini, sebagian besar anak-anaknya telah mendahuluinya menghadap Sang Ilahi.
November 2000, kakek saya meninggal dunia. Entah berhubungan atau tidak, u’u mulai sakit2an sejak saat itu. Katarak pada kedua matanya telah menghilangkan kemampuannya dalam melihat. Telinganya telah kehilangan fungsinya. Dia hanya dapat mendengar dari telinga sebelah kanan. Itu pun suara kita harus sangat sangat keras agar beliau dapat mendengar. Kakinya lumpuh, dan sendi-sendi dibadannya terasa amat nyeri jika digerakkan. Kalau dikatakan lumpuh, ya beliau 90% telah lumpuh.
Kini uu hanya bisa terbaring ditempat tidurnya. Sering beliau mengigau seakan akan dia kembali ke kehidupannya dahulu, ketika masih tinggal di Tasikmalaya, ketika anak2nya masih kecil, masih harus diasuh olehnya. Kadang-kadang mata yang telah buta akibat katarak itu dibukanya. Dengan tatapan kosong beliau seakan akan mengamati tiap sudut ruang kamarnya seperti melihat sesuatu, lalu beliau akan menunjuk ke suatu arah dengan telunjuknya. Ya, seperti melihat sesuatu.
Tiap pagi sebelum berangkat kekantor, mamah menggotongnya kekamar mandi, memandikannya,memakaikan baju menyuapi makanan dan dan diakhiri dengan membimbing beliau solat dhuha. Uu hanya kekamar mandi setiap pagi karena badannya yg sudah terlalu lemah. Urusan “membuang” dilakukannya ditempat tidurnya.
Hingga saat ini, sudah hampir 10 tahun uu tinggal bersama keluarga saya. Kehadiran beliau telah memberikan banyak pelajaran untuk saya, dan keluarga. Apapun yang terjadi dalam hidup ini, apapun yang terjadi padamu ingatlah selalu bahwa kita mempunyai keluarga yang akan selalu disana. Saat kau bangun, jatuh, senang. Sedih, saat sakit, selalu ingatlah bahwa kau tidak sendirian.Keluargamu selalu ada untukmu.
Ketika aku tanya pada mamaku, mah kenapa mamah mau mengurus uu padahal masih banyak saudara kita yang lain, yang tak kalah wajibnya seperti kita untuk mengurusnya?
Mamah menjawab,
“karena mamah pun ingin, bahwa anak2 mamahlah yang siap akan mengurus nini ataupun mamah dan papah nanti ketika kami tak bisa mengurus diri kami sendiri lagi.”